Light Autonomous Underwater Vehicle (LAUV).Universitas Maritim Raja Ali Haji

0
25

 

 

, , 404 Not Found
 Univesitas Maritim Raja Haji (UMRAH) Tanjungpinang memiliki peralatan teknologi canggih. Namanya, Light Autonomous Underwater Vehicle (LAUV). Alat dengan sistem kerja robot ini yang digunakan Fakultas Kelautan UMRAH, untuk menemukan bangkai pesawat Polri yang jatuh di perairan Lingga, Desember 2016 lalu. ”Alhamdulillah sudah kita buktikan dengan memberikan data-data yang komplit ke tim Basarnas,” kata Yales Veva Jaya MSi, Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Pesisir dan Laut UMRAH Tanjungpinang, di Fakultas Kelautan, Senggarang, Jumat (6/1) kemarin. Yales Veva Jaya mengungkapkan, Fakultas Kelautan UMRAH memiliki alat LAUV, sejak awal tahun 2015 silam. Alat ini menggunakan sistem robotic, yang bergerak secara mandiri autonomous. Di Kepri, hanya UMRAH yang memiliki alat ini. ”Baru kita yang punya versi ringan atau light,” tegas dosen yang akrab disapa Yales ini. Alat yang bisa bekerja dengan frekuensi 75 KHz dibeli dari institusi ocean scean Portugal. Alat ini digunakan untuk melakukan survei-survei kelautan. Ada empat kamera sensor yang melekat di alat tersebut. Yakni sensor kamera dan video, sensor vowat looking, sensor ADCP, sensor sid sonar. Kamera sensor ini, kata dia, langsung aktif dan bekerja, saat robot dioperasikan dengan sendirinya. Dan kamera sensor ini akan merekam benda atau situasi keadaan di sekitarnya, secara otomatis. Alat ini mampu menyelam dengan kedalaman 100 meter. Dengan demikian, LAUV mampu menyelam ke dasar laut perairan Kepri. Karena laut di Kepri memiliki kedalaman sekitar 50-70 meter. Daerah yang akan direkam oleh alat ini memiliki luas 1 kilometer persegi. Mekanisme kerjanya, dipermukaan dengan komunikasi komputer menggunakan sinyal wifi. Setelah robot menyelammenggunakan sistem akustik, alat ini beroperasi secara mandiri. ”Sebelumnya kita stetting robot ini. Baru diperintahkan untuk jalan sesuai visi,” ucapnya. Jika saat melakukan perekaman menemukan hambatan, maka robot ini bisa menghindar secara otomatis. Artinya, robot ini tidak akan menabrak benda yang menghalanginya. ”Begitu visi selesai, robot ini akan kembali ke titik awal. Waktu perekaman sekitar 4 jam,” terangnya. Hasil perekaman dari empat kamera sensor tersebut, lanjutnya, berupa foto dan video. Berupa gambar scanner, seperti data perairan laut. seperti kadar air laut dan kualitas perairan. Kualitas perairan itu seperti salinitas (kadar garam), plankton, suhu air laut, dan arus laut. Serta data bartimetri,kedalaman dan profil dasar perairan. Ini sangat membantu untuk mendeteksi objek di bawah air, dan kesuburan perairan. Kesuburan perairan seperti adanya plankton (makanan ikan). Artinya, banyak ikan di daerah tersebut. Karena banyak makanan ikan.”Data atau informasi ini, selalu kita sampai ke para nelayan. Sehingga para nelayan mudah menangkap ikan,” jelasnya. ***

Sumber : Tanjungpinang Pos tanggal 07 Januari 2016

https://issuu.com/tanjungpinangpos/docs/7_januari_164636c11d663c

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here